Thank You #9

6 Jan

Kemarin kita menyaksikan bersama-sama kembalinya Rajon Rondo ke Boston (dan dunia nyata) sebagai (potential) All-Star Point Guard tim Dallas Mavericks. Setelah trade dua minggu sebelumnya yang mendatangkan trio Jameer Nelson-Jae Crowder-Brandan Wright dan menjawab pertanyaan “kapan Rondo dilepas?” yang muncul setiap tahun, pemain yang mengenakan nomor punggung 9 lagi-lagi menjadi pusat perhatian pertandingan. Hanya saja alih-alih mengenakan kostum kebanggan Celtics kali ini dia mengenakan jersey biru-putih bertuliskan Dallas dan beristirahat di ruang ganti tim pendatang.

Jujur saja, para admin @celtics_id kembali naik roller-coaster emosi sejak membaca informasi trade melalui facebook sebelum muncul pernyataan resmi hingga pertandingan kemarin benar-benar berlangsung. Dua trade sebelumnya, yang mengirimkan Kevin Garnett-Paul Pierce ke Brooklyn dan Doc Rivers ke LA Clippers, masih menyisakan sedikit trauma dan perginya Rajon berarti menutup era tim kebanggaan yang menjuarai NBA tahun 2008. Tapi karena darah kami hijau, maka hidup harus berlanjut dan kami mendoakan yang terbaik untuk ksatria #9; tentunya tidak tanpa membuat posting blog.

Ngapain sih harus di-trade?” ; beberapa respon yang muncul di timeline kami.

Jawabannya sederhana; karena Danny Ainge (mewakili Celtics) merasa tidak yakin Rajon Rondo akan tetap berada di Boston kalau tidak mendapatkan kontrak maksimum. Yang artinya secara tidak langsung Ainge berkata bahwa ia tidak akan memberikan kontrak maksimum untuk Rajon.

Apakah Danny salah telah men-trade Rondo?

Ini pertanyaan yang kurang tepat. Pertanyaan yang tepat adalah “Apakah Rajon Rondo seorang pemain yang layak mendapatkan kontrak maksimum?

Mari kita lihat statistik.

Sejak ditinggal KG-Pierce-Allen-Doc, tim Celtics adalah tim yang lebih banyak kalah daripada menang. Keberadaan Rondo di lapangan tidak membuat tim menjadi lebih baik, dan yang lebih penting lagi Rondo tidak mencatatkan PPG yang signifikan ataupun berpengaruh besar di penjualan tiket dan merchandising. Yang lebih parah lagi, tidak ada Free Agent yang mau ke Boston untuk menjadi rekan satu tim Rondo. Sehingga kalau kita bermain pura-pura-jadi-GM-selama-satu-hari jawaban pertanyaan sebelumnya adalah “tidak”.

Tapi coba liat statistik Rondo abis di-trade, artinya Danny salah dong“.

Nah, ini menariknya. Rajon Rondo yang bermain dengan tim tanpa harapan untuk juara adalah orang yang berbeda dengan Rajon Rondo yang bermain dengan tim yang memiliki semangat untuk menjadi juara. Lihat saja rekaman pertandingan Rondo sejak bergabung dengan Mavericks. Saat diwawancara, (Rajon) menjelaskan bahwa ia sudah beberapa tahun tidak bermain defense; sesuatu yang konon merupakan identitas permainan tim Celtics.

Bener juga.

Lah ya emang buat apa juga main defense kalo cuma sendirian?

Udah nggak ada lagi Kevin Garnett yang bakal selalu ngingetin pemain lain untuk bermain defense. Ngapain juga capek-capek ngejar point guard lawan kalo kemudian dia bisa passing bebas ke wilayah paint yang gak kosong? Atau ke pemain yang bebas gak dijaga di pojok? Coba lihat statistik rata-rata Celtics kalah berapa poin dari lawannya, bandingin dengan era Big 3.

Menonton rekaman permainan Rondo di musim-musim sebelumnya, terlihat bahwa ia adalah komandan lapangan yang hebat dan dapat menemukan peluang mencetak angka dari sudut yang tidak terduga dengan satu syarat: ia memiliki rekan tim yang memiliki IQ basketball yang tinggi. Melihat daftar pemain yang ada di roster sekarang, bisa dipahami kalau Rajon tidak merasa di level yang sama dengan rekan-rekannya. Pendapat ini terbukti ketika ia berada di tim yang berisikan pemain-pemain hebat, kemampuannya perlahan-lahan muncul kembali.

Dan melanjutkan kepercayaan para jurnalis di Boston, setelah kembali bermain di panggung televisi nasional maka Rondo akan kembali ke pola headband-game (dimana ia mengenakan headband dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya).

Tapi ini bukan berarti bahwa Rajon bermain setengah hati selama di Boston. Mungkin ia hanya bosan kalah dan tak kunjung menemukan cara untuk menaikkan performa timnya. Bagaimanapun juga ia hanya manusia biasa. Mungkin ia…

…lelah.

Meskipun begitu,

Mungkin Danny akhirnya menemukan tim yang ia rasa sanggup memberikan kembali harapan untuk Rajon menjadi juara; sesuatu yang tidak bisa ia berikan di Boston. Sebagaimana Brooklyn Nets yang pada awalnya terlihat menjanjikan untuk membawa Garnett dan Pierce ke Final, Dallas Mavericks juga memiliki catatan yang cukup mengagumkan di awal musim. Mungkin Danny merasa berhutang pada para pemain kebanggaannya, mungkin ini adalah cara ia melunasinya; dengan mengirimkan mereka ke tim dengan potensi juara.

Lagipula kalau kita mau melihat sisi baiknya: Trade Rondo ke Dallas juga membuat kita, para fansnya, bisa melihat lagi operan-operan keren dan penampilannya yang gemilang di panggung utama NBA. Jangan lupa, Rajon Rondo masih memegang rekor triple-double terbanyak saat ini.

Seperti yang pernah diungkapkan sebuah artikel, Kevin Garnett dan Paul Pierce hanyalah Celtics yang sedang bermain untuk tim lain maka begitu pulalah Rajon Rondo yang kini mengenakan jersey Mavericks. (Entah dimana, Ray Allen menangis membaca paragraf ini). Dan beruntunglah kita, para fans Boston Celtics yang begitu setia pada tim kebanggaannya namun tidak pernah melupakan para pemain yang pernah membela (Celtics) dimanapun mereka berada.

Karena kita mengerti; sekali menjadi Celtic maka selamanya adalah Celtic.

We love you, Rajon. Thank you for the memories.

Once a celtic always a celtic.

#GreenRunsDeep

I am a celtic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: