Catatan Kecil Mengenai Fanatisme di Olahraga

22 Jun

Ketika semua ini ditulis, suporter Persib dan Persija dikabarkan sedang saling membalas provokasi. Di sore hari ini, beberapa oknum menyerang bus yang ditumpangi pemain dan pengurus Persib. Kabarnya, beberapa orang sampai luka-luka. Karena penyerangan itu terjadi di Jakarta, maka suporter Persija menjadi tertuduhnya. Sedangkan di Bandung, seorang selebriti melalui akun Twiter-nya menyatakan bahwa mobilnya diserang oleh (yang menurutnya adalah) suporter Persib. Lengkap dengan foto mobil yang kacanya pecah. Kebetulan mobilnya memang punya plat nomor Jakarta. Di dalam mobil tersebut, ada seorang anaknya yang berusia 4 tahun. Bahkan, seperti yang diberitakan di salah satu stasiun TV nasional, suporter Persib mulai menduduki gerbang tol Pasteur untuk mencegah mobil-mobil Jakarta memasuki Bandung.

Di tengah provokasi seperti itu, seorang teman (yang tinggal di Jakarta) mengirimkan satu broadcast message via BlackBerry Messenger yang isinya adalah:

“Persib Bandung Cemen, Yang Dilemparin batu Bis Persib, kenapa mobil Pribadi Plat B yang dihancurin. Kenapa g nyari bis Juga. Sekarang gantian, Hancurkan Mobil D Di Wilayah Jabodetabek”

Perlu diketahui bahwa teman saya ini adalah seorang pengacara. Sekali lagi… dia adalah seorang pengacara.

Bagi saya, ini adalah provokasi yang kurang ajar. Sebab, pada hari ini, beberapa keluarga saya sedang ada dalam perjalanan Jakarta-Bandung. Total ada 2 mobil dan semuanya memiliki plat nomor Bandung. Belum lagi ketika saya mengetahui bahwa seorang sahabat saya sedang ada di Jakarta dengan mobil berplat nomor Bandung. Secara tidak langsung, provokasi ini membahayakan nyawa orang-orang yang saya sayangi.

Saya mengingatkan dia dengan keras dengan berkata “Nyet, Bapak ku lagi di Jakarta pakai mobil plat D. Pake otak kalau mau nyebarin berita. Oke?”

Harus saya akui bahwa kata-kata saya kasar dan tidak elegan. Tapi, bukankah kita tak perlu pakai jas kalau hanya mau masuk ke kandang babi? Tak ada yang elegan dengan kandang babi dan saya tak wajib berteman dengan babi.

Sisi politis dari kasus ini memang tidak bisa diabaikan. Apalagi terjadinya tepat di saat ulang tahun Jakarta dan berita mengenai Jokowi yang (katanya) ingin mencalonkan diri jadi Presiden.

Terlepas dari semua teori konspirasi yang mengelilingi kejadian ini, ada satu hal yang menjadi perhatian saya. Satu hal tersebut adalah alasan blog ini dibuat. Alasan @Celtics_ID dibuat. Alasan tersebut adalah: Fanatisme.

Saya dan @nabun memulai @Celtics_ID karena fanatisme kami terhadap Boston Celtics (dan Garuda Bandung). Ada keprihatinan tersendiri ketika fanatisme digunakan sebagai alasan untuk kekerasan. Kewajiban moral dari blog ini adalah untuk menyampaikan pesan yang benar mengenai fanatisme di olahraga.

Saya tak tahu apa alasan teman-teman menjadi fans Boston Celtics. Saya yakin ada puluhan atau bahkan ratusan alasan yang berbeda dari teman-teman. Tapi satu hal yang pasti, life > basketball. Rekan saya @nabun berkali-kali mengatakan hal ini. Life is always bigger than basketball. In other words, life is always bigger than sports fanaticism. Saya benci Miami Heat. Saya tidak rela mereka jadi juara NBA 2013. Tapi toh hal itu tak pernah jadi cukup alasan buat saya untuk menghajar @NDrew24 sampai babak belur.

Pesan ini klise, tapi wajib disampaikan.

Jakarta, 22 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: